Perubahan zaman ikut mengubah cara murid belajar. Kalau dulu buku dan penjelasan guru menjadi sumber utama di kelas, sekarang informasi bisa dicari melalui gawai. Dalam hitungan detik, murid dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikan guru.
Namun, mendapatkan jawaban tidak selalu berarti memahami persoalan. Murid tetap perlu dibimbing untuk memeriksa informasi, membedakan fakta dan pendapat, serta menggunakan pengetahuan yang diperoleh dengan benar.
Di sinilah pekerjaan guru menjadi semakin menantang. Bukan hanya menyampaikan materi sesuai jadwal, tetapi juga memastikan murid tidak sekadar membaca, menyalin, lalu melupakan apa yang dipelajari.
Pelajaran yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Sebagai guru Pendidikan Pancasila di UPT SMP Negeri 32 Gresik, penulis melihat banyak persoalan sehari-hari yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. Salah satunya adalah kebiasaan bermedia sosial.
Murid tentu tidak asing dengan komentar di media sosial, berita yang beredar melalui grup percakapan, atau video yang ramai dibagikan. Hal-hal seperti ini bisa dibawa ke ruang kelas untuk dibahas bersama.
Ketika mempelajari nilai-nilai Pancasila, misalnya, murid dapat diajak membicarakan cara menghargai pendapat orang lain, menyikapi perbedaan, dan bertanggung jawab atas apa yang ditulis di internet.
Dengan begitu, pelajaran tidak berhenti pada hafalan bunyi sila atau jawaban di buku. Murid mendapat kesempatan untuk menghubungkan materi dengan perilaku mereka sendiri.
Guru juga bisa mengetahui bagaimana murid memandang persoalan tersebut. Ada yang sudah memahami pentingnya menjaga ucapan, ada yang masih menganggap komentar di internet sebagai hal sepele. Perbedaan pemahaman inilah yang perlu dibicarakan, bukan sekadar dinilai benar atau salah.
Tentu, cara seperti ini tidak berarti ceramah harus ditinggalkan. Ada materi yang tetap membutuhkan penjelasan. Namun, memberikan ruang bagi murid untuk berpikir dan menyampaikan pendapat membuat pembelajaran tidak hanya berjalan satu arah.
Gawai Perlu Digunakan dengan Tepat
Melarang penggunaan gawai bukan satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan di kelas. Penggunaannya tetap perlu diatur agar tidak mengganggu pembelajaran. Karena itu, gawai dapat dititipkan di ruang BK dan digunakan oleh murid ketika mendapat izin dari guru.
Gawai bisa membantu murid mencari bahan bacaan, mengerjakan latihan, atau mengakses sumber belajar. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kegiatan yang sedang berlangsung. Ketika guru menjelaskan atau teman sedang menyampaikan pendapat, perhatian tetap perlu diarahkan pada pembelajaran.
Hal yang sama berlaku ketika murid mencari informasi di internet. Mereka perlu dibiasakan memeriksa sumber, tidak langsung mempercayai judul yang menarik, dan tidak ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Kemampuan semacam ini tidak cukup diajarkan melalui nasihat. Murid perlu berlatih, berdiskusi, dan melihat contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi guru, tantangannya adalah menentukan kapan teknologi memang diperlukan dan kapan cara sederhana justru lebih efektif. Tidak semua pembelajaran harus menggunakan aplikasi. Ada kalanya membaca, berdiskusi, dan menulis dengan tangan lebih sesuai dengan kebutuhan murid.
Di Sekolah, Pekerjaan Tidak Hanya Mengajar
Ada hal lain yang juga menjadi bagian dari keseharian penulis, yakni menjalankan tugas sebagai operator Dapodik di UPT SMP Negeri 32 Gresik.
Selain menyiapkan pembelajaran Pendidikan Pancasila, pekerjaan sebagai operator Dapodik membutuhkan ketelitian dalam mengelola dan memperbarui data pendidikan. Data peserta didik, guru, rombongan belajar, serta berbagai informasi sekolah harus diperhatikan agar sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Pekerjaan tersebut berbeda dengan mengajar, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan tanggung jawab. Ketika berada di kelas, perhatian tertuju pada materi dan perkembangan murid. Saat mengerjakan Dapodik, ketepatan data menjadi hal yang harus dipastikan.
Bagi guru yang juga mendapat tugas tambahan, pembagian waktu menjadi persoalan tersendiri. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di depan komputer, sementara bahan ajar dan penilaian juga perlu dipersiapkan.
Semua memiliki tenggat dan kepentingan masing-masing. Karena itu, pekerjaan perlu diatur agar tidak saling mengganggu. Bagaimanapun, tugas administrasi harus diselesaikan, tetapi persiapan pembelajaran juga tidak boleh diabaikan.
Pengalaman menjalankan dua tugas tersebut membuat penulis melihat bahwa pekerjaan di sekolah memiliki banyak sisi. Apa yang terlihat oleh murid mungkin hanya kegiatan belajar di kelas, padahal ada pekerjaan lain yang mendukung jalannya layanan pendidikan.
Murid Bukan Sekadar Angka
Dalam kegiatan belajar, kemampuan murid tidak selalu sama. Ada yang cepat memahami penjelasan, ada yang harus bertanya beberapa kali, dan ada pula yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Guru perlu melihat kondisi tersebut sebelum menentukan cara mengajar. Jika semua murid diperlakukan dengan cara yang sama tanpa memperhatikan kebutuhannya, sebagian mungkin akan tertinggal.
Hal ini bukan berarti guru harus selalu menyiapkan cara berbeda untuk setiap anak. Namun, guru perlu peka terhadap kesulitan yang muncul dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
Penilaian juga sebaiknya tidak berhenti pada angka. Nilai memang diperlukan untuk mengetahui hasil belajar, tetapi proses murid dalam memahami materi, memperbaiki kesalahan, dan menunjukkan perubahan perilaku juga patut diperhatikan.
Pendidikan membutuhkan ukuran keberhasilan, tetapi angka saja tidak cukup untuk menggambarkan seluruh perkembangan seorang anak.
Tetap Menjadi Guru di Tengah Perubahan
Ki Hadjar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun anak dalam tumbuh kembangnya. Pemikiran ini tetap penting ketika guru berhadapan dengan teknologi yang terus berubah.
Guru perlu belajar menggunakan perangkat digital, memperbaiki metode mengajar, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid. Namun, semua itu tetap harus diarahkan pada tujuan pendidikan, bukan sekadar mengikuti tren.
Layar gawai memang bisa menyajikan banyak informasi. Akan tetapi, murid tetap membutuhkan arahan untuk memahami informasi tersebut dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Pada saat yang sama, guru juga perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan pertanyaan, melihat kesulitan, dan memberi penjelasan ketika murid belum memahami pelajaran.
Bagi penulis, persoalannya bukan memilih antara gawai dan tatapan mata murid. Keduanya memiliki tempat masing-masing. Teknologi membantu proses belajar, sedangkan guru memastikan proses itu berjalan sesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran.
Perangkat digital akan terus berkembang. Tugas administrasi sekolah pun akan terus berjalan. Di antara semua itu, guru tetap harus menjaga agar kegiatan belajar tidak kehilangan perhatian terhadap murid.
Sebab, pada akhirnya, pekerjaan guru bukan hanya memastikan materi tersampaikan dan tugas selesai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan murid benar-benar belajar.
