Menjadi guru bukan sekadar hadir di ruang kelas, menuntaskan materi, lalu mencentang presensi. Guru ditantang mampu menyalakan semangat belajar murid dengan rasa ingin tahu, berani mencoba, berpikir kritis, dan percaya diri. Tantangan ini nyata dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila materi memaknai sila pertama Pancasila kelas VII-B di UPT SMP Negeri 32 Gresik, terlebih saat supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah.
Kreativitas
dan inovasi guru sangat penting untuk menghadirkan pembelajaran yang
berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Salah satunya melalui pemanfaatan
Artificial Intelligence (AI), Spreadsheet, dan Google Apps Script (GAS) yang
dipadukan menjadi aplikasi berbasis website guna membantu murid belajar,
berinteraksi, mengerjakan tugas, serta menyampaikan gagasan.
Bagi
murid yang membawa gawai, aplikasi berbasis GAS membuat pembelajaran lebih
interaktif. Guru menempelkan barcode GAS di dinding kelas, lalu murid memindai
tautan menggunakan gawai untuk membaca materi, menjawab pertanyaan interaktif,
mengeksplorasi kasus kontekstual, hingga berdiskusi. Suasana kelas yang kaku
seketika cair; murid antusias mencoba, berdiskusi, dan berani mengemukakan
gagasan.
Teknologi
tidak boleh menjadi tembok pemisah. Prinsip utama guru adalah jangan pernah
meninggalkan murid. Faktanya, tidak semua murid membawa gawai dengan berbagai
alasan: gawai dibawa orang tua, paket data atau baterai habis, hingga
tertinggal di rumah. Bagi mereka, proses belajar tetap berlangsung adil
menggunakan buku teks dan lembar kerja kertas dengan materi yang sama.
Di
sinilah inovasi pembelajaran diuji. Inovasi bukan seberapa canggih teknologi,
melainkan bagaimana teknologi membantu pembelajaran tanpa meninggalkan siapa
pun. Gawai dan kertas hanyalah alat. Tujuan utamanya tetap sama, yakni membantu
murid memahami makna dan menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran
yang bermakna melampaui sekadar hafalan bunyi sila Pancasila dengan mengajukan
pertanyaan kontekstual sehari-hari, seperti cara bersikap terhadap teman yang
berbeda agama, agar murid dapat menemukan jawabannya secara mandiri. Melalui Student
Centered Learning (SCL) dan pendekatan deep learning, guru bertindak
sebagai fasilitator sementara murid menjadi pelaku utama yang berpikir kritis
dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, didukung oleh GAS sebagai
pemantik digital dan kertas sebagai alternatif inklusif.
AI,
Spreadsheet, GAS, dan lembar kerja kertas hanyalah sarana. Makna sesungguhnya
lahir dari proses di kelas demi mewujudkan Dimensi Profil Lulusan yang akan
dicapai dalam pembelajaran yaitu bertaqwa dan beriman, kewargaan, dan
kolaborasi.
Tugas
kita bukan sekadar membuat murid tahu secara kognitif, melainkan membersamai
mereka meresapi, menghayati, dan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam
tindakan nyata di keluarga, sekolah, dan masyarakat.*
Penulis : Rifaus Ismawadi, S.Pd., Gr. - Guru Pendidikan Pancasila
*Tulisan ini tayang di Jawa Pos - Rabu, 14 Oktober 2026
