Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Membakar Semangat Murid dengan GAS dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila

Rabu, 14 Oktober 2026 | 12.44 WIB Last Updated 2026-10-14T05:56:23Z

Menjadi guru bukan sekadar hadir di ruang kelas, menuntaskan materi, lalu mencentang presensi. Guru ditantang mampu menyalakan semangat belajar murid dengan rasa ingin tahu, berani mencoba, berpikir kritis, dan percaya diri. Tantangan ini nyata dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila materi memaknai sila pertama Pancasila kelas VII-B di UPT SMP Negeri 32 Gresik, terlebih saat supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah. 



Kreativitas dan inovasi guru sangat penting untuk menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Salah satunya melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), Spreadsheet, dan Google Apps Script (GAS) yang dipadukan menjadi aplikasi berbasis website guna membantu murid belajar, berinteraksi, mengerjakan tugas, serta menyampaikan gagasan.

 

Bagi murid yang membawa gawai, aplikasi berbasis GAS membuat pembelajaran lebih interaktif. Guru menempelkan barcode GAS di dinding kelas, lalu murid memindai tautan menggunakan gawai untuk membaca materi, menjawab pertanyaan interaktif, mengeksplorasi kasus kontekstual, hingga berdiskusi. Suasana kelas yang kaku seketika cair; murid antusias mencoba, berdiskusi, dan berani mengemukakan gagasan.

 

Teknologi tidak boleh menjadi tembok pemisah. Prinsip utama guru adalah jangan pernah meninggalkan murid. Faktanya, tidak semua murid membawa gawai dengan berbagai alasan: gawai dibawa orang tua, paket data atau baterai habis, hingga tertinggal di rumah. Bagi mereka, proses belajar tetap berlangsung adil menggunakan buku teks dan lembar kerja kertas dengan materi yang sama.

 

Di sinilah inovasi pembelajaran diuji. Inovasi bukan seberapa canggih teknologi, melainkan bagaimana teknologi membantu pembelajaran tanpa meninggalkan siapa pun. Gawai dan kertas hanyalah alat. Tujuan utamanya tetap sama, yakni membantu murid memahami makna dan menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pembelajaran yang bermakna melampaui sekadar hafalan bunyi sila Pancasila dengan mengajukan pertanyaan kontekstual sehari-hari, seperti cara bersikap terhadap teman yang berbeda agama, agar murid dapat menemukan jawabannya secara mandiri. Melalui Student Centered Learning (SCL) dan pendekatan deep learning, guru bertindak sebagai fasilitator sementara murid menjadi pelaku utama yang berpikir kritis dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, didukung oleh GAS sebagai pemantik digital dan kertas sebagai alternatif inklusif.

 

AI, Spreadsheet, GAS, dan lembar kerja kertas hanyalah sarana. Makna sesungguhnya lahir dari proses di kelas demi mewujudkan Dimensi Profil Lulusan yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu bertaqwa dan beriman, kewargaan, dan kolaborasi.

 

Tugas kita bukan sekadar membuat murid tahu secara kognitif, melainkan membersamai mereka meresapi, menghayati, dan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata di keluarga, sekolah, dan masyarakat.*

Penulis : Rifaus Ismawadi, S.Pd., Gr. - Guru Pendidikan Pancasila
*Tulisan ini tayang di Jawa Pos - Rabu, 14 Oktober 2026


×
Artikel Terbaru Update