Keberagaman bangsa Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang patut disyukuri . Mengelola perbedaan suku, agama, ras, gender, hingga antargolongan bukanlah perkara mudah . Jika tak dipupuk dengan nilai persatuan, perbedaan berpotensi memicu benih-benih intoleransi .
Melihat tantangan tersebut, UPT SMP Negeri 32 Gresik mengambil langkah nyata dalam membangun iklim sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari intoleransi . Melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas VII, pendekatan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) diterapkan untuk menanamkan pemahaman kebinekaan secara menyenangkan dan kontekstual .
Poster Kebinekaan: Mengubah Konsep Jadi Karya
Alih-alih sekadar mendengarkan ceramah teori, murid diajak memahami kebinekaan melalui visualisasi dan eksplorasi kreativitas . Pembelajaran diawali dengan menyaksikan tayangan video edukatif, mengamati poster kebinekaan, serta membaca artikel tentang keanekaragaman budaya Indonesia .
Setelah itu, murid mengekspresikan pemahamannya melalui pembuatan poster bertema "Beda-Beda, Tetap Istimewa" . Menggunakan media sederhana seperti kertas HVS, spidol, pensil warna, hingga krayon, murid bebas menyalurkan ide dan imajinasi mereka .
Melalui menggambar poster, murid diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan ide, dan mengasah kreativitas . Mereka belajar bahwa perbedaan fisik, agama, maupun latar belakang sosial bukanlah halangan, melainkan keunikan yang harus dihargai.
Menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila
Proses pembelajaran tidak berhenti pada selesainya lembar gambar . Setiap murid diberikan kesempatan mempresentasikan karya mereka di depan kelas . Langkah ini bertujuan melatih keterampilan berkomunikasi, menyampaikan gagasan secara terarah, serta merespons pertanyaan rekan-rekannya . Karya-karya terbaik murid kemudian dipajang di majalah dinding (mading) sekolah sebagai sarana edukasi bagi seluruh warga sekolah .
Melalui kegiatan ini, terdapat dua elemen utama Profil Pelajar Pancasila yang ditumbuhkan, yakni Kebinekaan Global dan Kreativitas . Murid diajak menyadari bahwa menghormati pemeluk agama lain—dengan prinsip "bagiku agamaku, dan bagimu agamamu"—merupakan fondasi penting dalam menjaga kedamaian hidup bermasyarakat .
Fondasi Sekolah Aman dan Inklusif
Penilaian dalam kegiatan ini berfokus pada penguatan sikap (civic disposition) dan keterampilan (civic skills) . Sikap saling menghargai, kolaborasi, dan rasa tanggung jawab menjadi pilar utama yang dinilai .
Langkah sederhana yang dilakukan di tingkat sekolah menengah ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam mencegah radikalisme serta memperkokoh semboyan Bhinneka Tunggal Ika sejak usia remaja . Karena pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu akademis, melainkan rumah semai bagi generasi penerus bangsa yang toleran, berkebinekaan, dan berkarakter .
