Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Merawat Keterampilan Jurnalistik dari Ruang Kelas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 08.48 WIB Last Updated 2026-10-16T04:17:25Z
Kandas menjadi jurnalis tak lantas memadamkan impian. Dari depan papan tulis dan peran kehumasan sekolah, keterampilan menulis itu justru menemukan ruang liputannya sendiri.

Oleh : Rifaus Ismawadi

Dan cerita ini dimulai....

Dulu, bayangan masa depanku terasa begitu riuh dan penuh adrenalin. Aku membayangkan berdiri di garis depan peristiwa dengan mikrofon stasiun TV di tangan, lalu berseru bangga dalam hati: “Pak, Mak, lihatlah, anakmu ada di tivi!” Cita-cita itu sederhana, namun sanggup membakar seluruh semangat mudaku: aku ingin menjadi seorang jurnalis.

Namun, alur hidup kerap kali ditulis dengan tinta yang tak bisa kita tebak jalannya. Langkah untuk meliput riak dunia secara penuh perlahan kandas. Takdir terlebih dahulu menuntunku memasuki dunia pendidikan, mengenakan seragam pengajar, dan berdiri di depan kelas.

Meski begitu, nyala api kewartawanan itu tak pernah benar-benar padam. Di sela-sela kesibukan menyusun modul dan mendidik murid-murid, aku sempat menyalurkan passion itu dengan nyambi menjadi kontributor di media pemberitaan online. Mengirimkan naskah berita di sela waktu mengajar, mengejar waktu terbit di antara tumpukan tugas sekolah, hingga merasakan sensasi ketika tulisan sendiri dibaca oleh publik luas.

Hingga akhirnya, dinamika perjalanan membawaku pada titik hari ini: menjadi seorang guru sekaligus mengemban amanah sebagai humas sekolah.

Di titik inilah aku menyadari indahnya benang merah yang dirajut oleh takdir.

Ternyata, aku tidak pernah benar-benar kehilangan impianku. Menjadi guru yang dipercaya mengelola humas sekolah adalah persimpangan sempurna yang mempertemukan dua dunia yang kucintai. Keterampilan jurnalistik yang dulu kutimpa, kemampuan menggali kisah, menyusun narasi, dan menyuarakan kabar baik, kini menjadi bekal utama untuk menjembatani sekolah dengan masyarakat luas.

Jika dulu aku bercita-cita mengejar tokoh-tokoh hebat untuk menuliskan cerita hari ini, kini takdir menaruhku di depan papan tulis untuk menuntun lahirnya calon-calon orang hebat itu. Dan lewat amanah kehumasan, aku berkesempatan merawat dan membagikan setiap rekam jejak karya, prestasi, hingga pendar inspirasi dari murid-murid dan dinamika sekolah.

Ruang kelas dan lingkungan sekolah ternyata adalah lapangan liputan terbaik yang pernah ada. Setiap murid datang membawa narasi yang unik: perjuangan mereka memahami materi, kepolosan mereka menyikapi perbedaan, tawa di lorong sekolah, hingga cita-cita besar yang mereka bisikkan dengan malu-malu.

Aku mungkin tidak bekerja di ruang redaksi media besar nasional. Namun, setiap hari ada keseimbangan yang menentramkan jiwa: di satu sisi membimbing murid-murid di kelas, dan di sisi lain mengabarkan dinamika serta kebaikan sekolah kepada dunia luar.

Menjadi guru yang kini berjalan berdampingan dengan tugas kehumasan bukanlah pilihan kedua, apalagi tempat berteduh dari mimpi yang patah. Ini adalah skenario indah tempat takdir menuntunku untuk tetap menuliskan kebaikan. Bukan sekadar warta harian yang cepat pudar, melainkan jejak-jejak inspirasi di dalam jiwa murid-murid yang siap merajut masa depan. Entah bakal menjadi apa dan bagaimana jejak langkah mereka kelak.
×
Artikel Terbaru Update